just a thought

Kembali membuat pertemuan dg temen2 gw sepulang kerja hari jumat. Masi membahas seputar pernikahan. Kebeneran temen gw yg satu, usia pernikahannya gak jauh berbeda dg gw. Sementara yg satu lagi meski dia belum menikah, tapi hubungan keterbukaan ke pasangannya sudah seperti udah nikah lebih lama dari gw, hehe. Becanda bu…

Bahasan yang menarik perhatian gw kali ini adalah masalah pengaturan keuangan dikeluarga dan alokasi pengeluaran kita sebagai istri.
Teman gw yang satu (sebut saja namanya si A) adalah wanita karir sejati. Mempunyai penghasilan yang jauh lebih tinggi dari suaminya, smart, cekatan dan powerful ! dalam hal pengaturan pengeluaran RT, suaminya memberikan jatah untuk kebutuhan RT dan kebutuhan dia pribadi sejumlah nominal tertentu. Jumlah itu akan bertambah jika sang suami mendapatkan tambahan penghasilan lain pada bulan itu. Dengan begitu, uang yang dia hasilkan dari pekerjaannya itu adalah sepenuhnya hak dia. Totally untuk dirinya sendiri. Berarti dalam hal ini si A mempunyai dua sumber pendapatan. Satu dari hasil kerjaannya, satu lagi dari suaminya. Uang yang dia peroleh itu sebagian dia gunakan untuk kesenangan dia sebagian lagi untuk personal secret saving.
Kemudian dalam hal tanggung jawab yang lain, si suami berkewajiban untuk mengantar-jemput si A dari kantor ke rumah. Jika suami tidak dapat menjemput karena alasan tertentu, maka si A akan men-charge ongkos taksi ke suaminya sesampainya dirumah. Dalam hal yang lebih makro, untuk hal investasi misalnya, apakah itu dalam hal membeli tanah, rumah, mobil ato yang lainnya, si A sudah punya trik and plan jikalau kepemilikan atas barang itu akan menjadi atas namanya atau suaminya, terlalu panjang untuk gw jelaskan, tapi yang pasti gw melihat ada unsure opportunis didalamnya.

Setelah mencermati konsep RT temen gw ini, gw jadi berfikir alangkah dirugikannya si suaminya ini.
Pertama, suami harus mengcover segala kebutuhan RT, menafkahi istri dan dirinya, memberi jatah sejumlah tertentu untuk kesenangan istrinya. Bisa jadi semua penghasilan si suami dalam sebulan habis untuk alokasi ketiga pos penting itu. Sementara tabungan si istri semakin bertambah dari penghasilan yang dia hasilkan setiap bulannya.
Kedua, suami harus mengatur waktunya sedemikian rupa sehingga dia bisa menjalankan tugas dan tanggungjawabnya dengan baik dengan mengantar jemput si istri.

In my opinion (dan ini yg gw terapkan di RT gw) dalam kasus ini, si istri bekerja atas dasar kemauannya sendiri, BUKAN karena untuk saling mengcover kebutuhan RT tapi untuk kepentingan dan kesenangannya sendiri. Dan itu berarti segala yang berkaitan dengan hal itu dan proses kegiatannya mulai dari kita melangkah dari rumah menuju kekantor ketempat kita bekerja, waktu kita selama ditempat kerja termasuk lunch time dsb sampe dengan perjalanan kembali pulang ke rumah itu adalah sepenuhnya milik kita dan tanggung jawab kita. Artinya, suami tidak berhak untuk “mengganggu” kita dengan menyuruh cepat pulang misalnya, atau “mengawasi” kita dengan telp dan sms nya yang bertubi atau membatasi dengan siapa dan dimana kita makan siang, dsb. Dan…… suami juga tidak berkewajiban untuk mengantar jemput kita, karena itu termasuk kedalam bagian proses seperti yg gw jabarkan tadi.
Sisa waktu yg ada sekambalinya kita dari tempat kerja, barulah menjadi milik bersama
Selain masalah pembagian waktu, gw juga mengutarakan konsep gw ttg alokasi penghasilan suami dan istri dalam RT.
Gak perlu gw tuliskan disini panjang lebar, but in short, gw menerapkan konsep kesetaraan.

Itu baru fair menurut gw.
Tus abis itu temen gw nanya. Jadi apa gunanya suami kita kalo gak antar jemput kita, kalo gak menafkahi kita. Buat apa lu nikah ? apa bedanya ama sewaktu lu masi single kalo masi kayak gini ???

Kemudian perdebatan itu terjadi……..
dan pembicaraan menjadi semakin seru.

Engga kerasa sudah jam sebelas. Ahirnya kita pulang ke rumah masing masing dengan membawa pemikiran2 baru dari hasil brainstorming ini.

Kalo kesimpulan gw adalah, tidak ada standar baku dan undang2 yang mengatur secara detail dan terperinci menganai hak dan kewajiban suami terhadap istri atau sebaliknya. Peraturan kewajiban untuk menafkahi istri lahir dan batin pun masi sangat general.
yang ada hanyalah sumpah setia untuk hidup bersama, dikala senang ataupun susah, sedih dan gembira, suka dan duka hingga ahir dunia.

Ada unsur kebersamaan didalamnya.
ksetaraan
kharmonisan
kkompakan
kmengertian
kseimbangan

mungkin temen gw berfikir kalo pemikiran gw terlalu naif
atau gw berfikir konsep RT temen gw itu penuh unsur politik
tapi apapun rancangan itu, sepanjang kita dan pasangan hidup kita bahagia menjalaninya, segalanya tampak bukan menjadi masalah dan bukan menjadi hal yg perlu diperdebatkan.
Ini hanyalah salah satu dari sekian episode pembelajaran hidup berumah tangga.

Thanks for this valuable gathering

One Response to “just a thought”

  1. Helen Says:

    1 lagi li yg mau gw tambahin, hilangin ke pura2an.. kl dah gak cinta bilang gak cinta jgn dipaksain, ntar selingkuh deh, hehehe :P kecuali kepepet yak?

Leave a Reply