Saya berfikir
Saya berpikir, kenapa kita suka menilai orang lain ? membuat stereotype, berprasangka, prejudice, berasumsi, mempersepsi perilaku orang lain..
Saya percaya kalau semua orang adalah individu yang berbeda, unik, –and yet, sama. Saya tidak perlu menyimpulkan bahwa dia tidak bisa dipercaya hanya karena dia satu-dua kali mengingkari janji. Dan saya tidak bisa membencinya hanya karena dia telah dilabeli ’pembohong’, misalnya. Atau saya juga tidak bisa langsung percaya ketika ada orang yang dilabeli “Player, Penggoda, Pencinta Sejati dan sejenisnya”. Setiap manusia sama : belajar dan melakukan kesalahan. Tapi, seperti kata Oprah Winfrey, kamu bukan ’kesalahan kamu’.
Kita seharusnya belajar dari pengalaman dan kesalahan kita. Kita melakukan deduksi terhadap satu atau lebih peristiwa, melihat pola-pola kesamaan, dan dengannya memperkirakan apa yang akan terjadi kemudian.
Intinya, banyak sekali informasi yang harus kita cari, pola-pola hubungan yang terkesan acak yang perlu kita dalami lagi, sebelum kita berangkat pada kesimpulan – especially when it concerns our perception to others. Ya, memang seharusnya begitu. Sayangnya tidak banyak orang yang berfikir sampai kesana. Mereka lebih senang dengan justifikasi yang mengatasnamakan rasa perhatian, solidaritas, mengaitkan satu case dengan case lain, menyimpulkan dan ahirnya mengeksekusi.
Buat saya, sangat menenangkan ketika kita dapat melihat orang lain tanpa pretensi apapun. Susah memang. Saya juga kadang tanpa sadar telah masuk kedalam suatu obrolan yang menimbulkan suatu pretensi tertentu dan ahirnya ikut mengeksekusi. Tapi kembali kepada diri kita, justru disinilah tingkat kedewasaan berfikir kita terlihat.
November 18th, 2006 at 2:08 am
sequel 2 :hmm..seems like a pleidoi…