~ LOVE ~
Thursday, December 28th, 2006Apa sih cinta itu?
Benarkah seluruh daya hidup digerakkan olehnya?
Benarkah cinta sejati itu ada dan layak diperjuangkan dalam hidup?
Dulu aku percaya itu.
Cinta seperti yang dimiliki Tuhan, bagai proses emanasi yang takkan berhenti.
Cinta yang membuat kita eksis.
Cinta yang membuktikan kepenuhan diri dengan memberi tanpa pamrih.
Cinta yang menguatkan, memberi daya dorong, semangat.
Cinta yang melahirkan kesetiaan, meski tak berbalas sekali pun.
Cinta yang menyebabkan kegilaan, bisa ada airmata hanya karena rindu atau menerbitkan energi sprint untuk menyelesaikan segudang pekerjaan hanya dengan menaruh photonya di samping monitor PC.
(Hua ha ha...konyol)
Cinta yang juga mengakibatkan kebutaan, kenaifan maha dahsyat, karena si dia menjadi terlalu istimewa.
(Please deh ly, mana ada manusia tanpa kekurangan?)
Ternyata…
Untuk makhluk senisbi manusia, cinta yang bisa dimilikinya pun nisbi saja.
Hm…. mungkin cinta itu lebih digerakkan oleh momentum yang tepat. Momentum ketika satu hati yang siap menerima dan memberi, menemukan objek yang menarik.
Momentum itu menjadi sempurna tentu, bila ternyata ada dua hati yang terlibat di situ.
That’s it !!!!
Karena ternyata…
Ketika momentumnya berlalu, cinta pun berubah, mungkin beralih. Objek cinta bisa jadi tak menarik lagi ketika keseluruhan diri kemudian dipenuhi pengalaman dan pembelajaran baru. Maka jangan terlalu masygul bila kau merasa malu pernah mencintai orang yang ternyata belakangan ketahuan sikapnya, integritasnya tak membanggakan. Karena toh, ada suami yang dulu setengah mati mencintai istrinya namun ketika kerut-kerut hadir di wajah (keduanya, tentu), atau ketika istrinya kini hanya berdiam dirumah, mendedikasikan hidup untuk anak-anaknya dan entah tidak punya waktu untuk mengurus dirinya untuk menjaga kebugaran, kecantikan dan pesona yang selama ini digilai oleh suaminya dulu hingga waktu berlalu begitu saja, dia bingung mencari cinta yang dulu membakar hatinya.
Bila ternyata dalam kenisbiannya manusia dapat memelihara cinta sepanjang usia, mungkin karena dia memelihara momentum jatuh cinta itu. Dan pastinya karena cukup worthed untuk dipelihara.
Entah karena komitmen atau perjalanan cinta itu membuatnya makin berharga. Pengalaman, pembelajaran dan waktu-waktu berharga yang dilalui bersama.
Akhirnya…
Apa sih cinta itu?
Marx pasti juga menyebutnya sejenis opium.
Jung jelas mengatakan sepenuhnya menunjukkan gejala ‘ The Madness’.
Hm….. percayalah pada cinta karena bila tak memilikinya hidupmu terasa tak berharga.
Tapi jangan berharap dia abadi.
Cinta hanya bisa sangat dalam –sampai menghisap seluruh semangat hidup– dan hanya abadi dalam film-film, terutama film
Korea .
Kalau begitu yuk, nonton film
Korea saja!
HAPPY NEW YEAR 2007 (^_^)