Kejadian di Bukafe
Thursday, June 7th, 2007Merasa terkungkung oleh ruangan kamar kost 4×4m dan bosan dengan kegiatan baca, ngetik, nonton dvd dan dengerin radio, aku memutuskan untuk menikmati kehidupan diluar rumah.
Tempat pertama yang terpikirkan adalah Bukafe, sebuah toko buku dengan konsep perpustakaan pribadi yang memberikan kenyamanan sekelas cafe yang affordable, sebuah tempat yang cukup representative terutama bagi aku yang tengah berjuang mensiasati cash flow keuangan. Maklumlah…..dalam kondisi jobless begini emang kita mesti dituntut untuk pintar-pintar mengatur pengeluaran.
Aku sengaja memilih tempat duduk yang paling pojok, secara aku memang tidak ingin terusik oleh mahluk manapun yang ada ditempat itu.
Hhmmm, sepertinya meja ini akan menjadi tempat favorit ku. Dari kejauhan, aku bisa melihat siaran tv yang sedang dinyalakan, meski suaranya tak terdengar, kalah oleh sound radio yang speaker nya berada tepat diatas kepalaku. Aku juga bisa melihat orang orang sekeliling dengan bebas tanpa merasa diperhatikan oleh orang lain. Ditambah dengan posisi meja yang menghadap lurus ke ruang internet, membuat aku tidak kerepotan untuk menerka nerka siapa yang bergiliran untuk berkehendak masuk ke ruangan itu.
Satu meja terlihat kosong, waktunya buat aku konek ke internet. Coba buka yahoo messenger, sapa tau ada teman yang sudi diajak chat ditengah tengah kesibukan meraka bekerja. Tidak ada, kecuali Mark Lee, salah satu mantan supplier ku dulu ketika masih bekerja di KQ.
Just say Hi.
Buka Jobs db dan beberapa link job hunter, gak ada yg sreg.
Sudahlah…..
Aku berjalan jalan mengitari ruangan, melihat lihat apakah ada buku yang menarik perhatianku untuk dibaca. Sebenarnya aku telah membawa buku sendiri. Tiga buah buku yang semuanya butuh konsentrasi penuh. “Nice Girls Dont Get the Corner Office, Speed Reading Better Recalling dan On Becoming Fearless” tapi sepertinya kali ini aku ingin membaca buku yang ringan ringan saja, semacam novel lokal gitulah…
well, mungkin pengaruh dari alunan musik yang agak mellow diruangan ini yang membuatku sedikit terbuai dalam romantisme (apa seehhh…).
Ditengah kegiatan pencarian buku dan kegelisahan pikiranku tentang kejelasan tawaran kerja dari sebuah perusahaan yang gak kunjung tiba itu, pandangan ku secara tidak sengaja tertuju pada tiga pria dalam satu meja yang tengah membahas sesuatu. Sepertinya mereka mahasiswa S2, mungkin kuliah di IPMI, karena cuma itu satu satunya tempat kuliah bergensi dan terdekat dari sini.
Salah satu dari mereka mendekatiku dan memperkenalkan diri alih alih mencoba membantu mencarikan buku yang ingin aku baca. Obrolan singkat pun berlangsung, dan benar saja, meraka semua adalah mahasiswa IPMI dan single (menurut versi mereka yang tentunya tidak layak untuk langsung percaya).
“sudah bekerja apa kuliah mbak ?” tanya Rio, salah satu personnel paling ceriwis dibanding dua lainnya.
“kerja, tapi lagi ambil cuti” kataku singkat. Aku tidak mau mengambil resiko untuk berbohong dengan mengatakan aku juga seorang mahasiswi S2 demi untuk menyetarakan kasta dengan mereka. Aku juga merasa tidak perlu menceritakan hikayat perjalanan hidupku yang sesungguhnya hingga aku mendapat gelar pengangguran saat ini.
“masih single ato sudah menikah ?” tanya temannya Rio yang aku gak inget siapa namanya. Phew, lagi lagi aku harus memberikan jawaban cerdas, bukan jawaban jujur yang bertendensi menimbulkan pertanyaan lanjutan yang lebih mengkerucut. “Engga” jawabku singkat tanpa berniat untuk memberikan informasi lebih banyak.
“kuliah angkatan berapa mbak ?”
mo tanya angkatan berapa apa tanya umur gw ? kata ku smashing.
“Hehehe, dua duanya, kalo boleh siy itu juga” kata temen satunya dengan nada hati hati.
Kenapa sih pria sangat concern dengan umur wanita ? kataku balik nanya.
Lha, kenapa pula wanita sangat sensitif ketika ditanyai mengenai umur ? katanya menyerang balik. Sebenernya nih mbak, usia merupakan salah satu dari lima keingintahuan utama orang indonesia-tidak hanya pria, setelah status perkawinan, agama, suku dan pekerjaan. Kalian saja para wanita yang terlalu melebih lebihkan esensi dari pertanyaan itu. Katanya membela diri.
……dan perdebatan intelek antara perbedaan gender pun dimulai.
Diskusi semakin menjadi panjang dan tanpa sadar aku telah berada dimeja sekawanan pria itu dan berada dikursi tengah. Es capuccino dan pisang bakar ku pun ikut berpindah tempat ke meja ini.
……Angkatan 97’ kataku mengalah.
Walah mbak….kalo dikampung gw nih, mbak tuh udah punya anak tiga !!! katanya sambil ngakak.
Akupun ikut tertawa, meski cemberut didalam hati. Rasanya setelah itu tidak ada lagi yang ingin aku diskusikan dengan tiga orang gak guna ini. Tapi setelah aku pikir ulang, apa salahnya pendapat Rio tadi ? dia benar bahwa pada usia sekarang ini aku seharusnya paling engga telah memiliki satu momongan ato dua momongan sekaligus -kalo kebeneran anak gw lahirnya kembar- tapi kalo anak tiga mah belum lha yaaa.
Lagipula, kebanyakan temen temen gw yang udah nikah sejauh ini telah punya anak satu ato dua buah.
Kadang gw iri kepada mereka karena telah memiliki keluarga tempat mereka berbagi, bocah yang memberi mereka harapan pada kehidupan dan suami yang memberikan cinta kasih sekaligus menjadi partner yang aman ditempat tidur. Tapi dari pengakuan mereka juga gw tau kalo mereka iri terhadap gw yang masih bisa luntang lantung dan manjadi diri sendiri, bebas menghabiskan sebagian besar waktu di kantor demi sebuah achievement pribadi atau sekedar kepuasan semata, yang bebas secara finansial menggunakan uang dari hasil sendiri tanpa harus meminta persetujuan dan pertimbangan kanan-kiri.
mereka iri karena gw masih bisa melakukan itu semua padahal gw telah menyandang predikat MENIKAH.
Atau yang lebih tepatnya adalah, mereka memandang ada yang salah dengan format pernikahan gw ?
ah, itu semua berpulang kepada persepsi masing masing dalam memandang arti pernikahan itu sendiri.
Terlalu kompleks untuk dibahas.
Ketiga teman baruku ini, yang tahunya aku belum menikah, mulai menanyakan hal yang paling membuat wanita risih mendengarnya.
“umur segini kok belum menikah ?”
(kesannya gw udah uzur bangettt gitu lohhh)
Gubraaaakkkk.
“Ini Jakarta Bung, bukan kampung halaman lu. What the hell dengan pernikahan”. jawab gw ngasal. Kalo tadi gw bilang bahwa gw udah married, lu pada pasti gak bakal tanya kenapa umur segini udah menikah khaaaannnnnn ? yang ada malah timbul pertanyaan lain, kenapa kok belum punya anak ?????
Cape deeeeeeee.
Well, memang gak bisa dipungkiri, bagi kaum hawa di negeri ini pernikahan masih merupakan angka nol. Tidak menikah adalah minus dan mempunyai anak adalah plus yang merupakan kata lain dari perempuan sempurna.
Bahkan ada yang lebih ekstrim lagi. Pertanyaan sudah married atau belum lebih dikonotasikan dengan “sudah berhubungan sex atau belum?”
Parah banget khan ?
…………… diskusi terus berlangsung.
Apa yang membuat orang manyamakan seks dengan perkawinan lalu menyempitkan seks menjadi persetubuhan dan arti seks menurut versi masing masing, manjadi bahan diskusi yang sangat menarik bagi kita berempat.
(tentunya diskusi ini sangat sarat dengan unsur unsur intelek yang disandang oleh tiga teman baruku ini yang membikin aku tidak tabu membahasnya meskipun perbedaan gender teteeeeeuuuupp menjadi dasar utama pembeda segalanya ).
Waktu telah menunjukkan pulul 16.45, gak kerasa aku telah menghabiskan waktu 4 ½ jam disini. Kita berpisah tanpa saling memberi no handphone karena kita lebih mengutamakan menggunakan intuisi daripada membikin janji pertemuan yang diatur oleh perangkat bernama handphone, secara kita juga pastinya punya alasan dengan versi masing masing untuk tidak saling memberi tahu no private itu.
Aku pulang ke kost dengan membawa satu pertanyaan dari pernyataan yang dilontarkan oleh Rio tadi :”definisi seks menurut gw adalah melakukan segala sesuatu yang mengakibatkan rangsangan pada organ seks. Sisanya cuma perkara teknik. Jadi, secara hakiki antara seks, cinta dan perkawinan tidak ada korelasi.
Jadi jangan heran kalo gw bisa melakukan tiga hal berbeda itu dengan parner yang berbeda pula.
Masa sih ???
Dunia memang sudah gila
Atau gw yang terlalu naif.
Entahlah……
Eh, merhatiin gak pernyataan dari Rio tadi ? kalo apa yang dia bilang itu bener dan tengah dia jalanin, berarti dia udah married donk ?
dasar pria memang tidak bisa dipercaya.
Mengaku bujangan kepada setiap wanita ternyata cucunya segudang (itumah lagunya Anggun jaman jadul kaleeee ).
Tapi gw juga sama denk, mengaku belum married dengan alasan yang bisa dipertanggung jawabkan tentunya. Hehehe.
Pria – wanita ternyata sama sajah.
Tetapi kenapa perbedaan gender itu selalu diperdebatkan yaaaa….
Au ah !!